Bagian Saudara Kandung Sebagai Ahli Waris

Penanya:

Assalamualaikum wr. wb,
Saya anak angkat dari sepasang suami istri yang tidak mempunyai anak hingga sekarang bapak dan ibu angkat saya meninggal dunia. Mereka memiliki harta bersama sebidang tanah dan rumah. Bapak angkat saya masih memiliki satu saudara perempuan dan ibu angkat saya masih memiliki dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Kami semua beragama islam. Saya ingin menanyakan bagaimana pembagian warisan harta orang tua angkat saya tersebut menurut hukum islam. Saya sangat membutuhkan bantuan ibu karena saya ingin sekali harta tersebut dapat dibagi secara benar walaupun saya tidak berhak mendapatkannya. Bila berkenan,  Atas bantuannya saya mengucapkan terima kasih.

Jawaban:

Waalaikumsalam wr.wb.,

Kronologis diatas dapat saya ringkas sebagai berikut:

  1. Bahwa penanya merupakan anak angkat dari suami dan Istri
  2. Bahwa orang tua angkat penanya (suami-istri) tersebut telah meninggal dunia.
  3. Bahwa almarhum dan almarhumah orang tua angkat dari penanya memiliki harta warisan yang merupakan harta bersama berupa sebidang tanah.
  4. Bahwa almarhum bapak angkat (Suami) memiliki satu saudara perempuan.
  5. Bahwa almarhum ibu angkat (istri) memiliki dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan.
  6. Bahwa semua anggota keluarga beragama islam

Berdasarkan ringkasan tersebut, maka dapat digambarkan sebagai berikut:

gmbar silsilah

 Pembagian dalam hukum waris islam:

Pembagian hukum waris islam mengikuti ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sebagaimana artikel saya terdahulu, warisan dapat keluar setelah si pewaris meninggal dunia. Dalam hal ini maka pewaris adalah orang tua angkat dari si penanya. Kronologis di atas juga menjelaskan harta peninggalan yang ditinggalkan oleh orang tua angkat yaitu sebidang tanah yang merupakan harta bersama.

Untuk mengetahui bagaimana pembagian harta warisan tersebut maka harus terlebih dahulu paham siapa hali waris dari orang tua angkat tersebut. Pengertian ahli waris pada Pasal 171 huruf c KHI adalah orang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama islam, dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. Dalam hal ini berati ada 3 (tiga) kriteria yang dapat disebut sebagai ahli waris yaitu:

  1. Memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris
  2. Beragama Islam
  3. Tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris

Selanjutnya diperjelas pula pada Pasal 174 Ayat (1) dan (2) KHI menyebutkan bahwa yang berhak menjadi ahli waris adalah:

  1. kelompok-kelompok yang disebut sebagai ahli waris terdiri dari: a) Golongan laki-laki yang terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, dan kakek. b) Golongan perempuan terdiri dari: ibu, anak perempua, saudara perempuan, dan nenek. c) Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda
  2. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda dan duda

Klausula pasal di atas yang pertama kali disebut sebagai ahli waris adalah anak, ayah, dan ibu sebagaimana ayat ke-2 nya. Dalam kronologis di atas pewaris tidak memiliki anak Akan tetapi, penanya tidak menyebutkan apakah ayah dan ibu kandung dari orang tua angkat penanya masih ada atau kah telah meninggal dunia. Karena dalam hukum waris islam ayah dan ibu kandung dari pewaris masih diperhitungkan pembagiannya.

Apabila ayah dan ibu kandung dari pewaris telah meninggal dunia dan dalam posisi tersebut pewaris tidak memiliki anak kandung, maka warisan langsung jatuh kepada ahli waris yang masih memiliki golongan darah dengan pewaris yaitu saudara dari pewaris.  Saudara pewaris dari istri (ibu angkat) merupakan ahli waris ashobah yaitu ahli waris yang diperhitungkan setelah bagian para ahli waris dzawil furud diperhitungkan. Sedangkan saudara dari suami (ayah angkat) merupakan ahli waris dzawil furrud yaitu bagian diperhitungakan terlebih dahulu dan telah ditentukan dalam syariat.

Bagaimana Pembagiannya??

Pada kronologis di atas tidak disebutkan tanggal berapa pewaris tersebut meninggal dunia. Hal ini perlu diketahui untuk menentukan siapa terlebih dahulu yang meninggal dunia apakah suami (ayah angkat) ataukah si istri (ibu angkat). Hal ini perlu diketahui terlebih dahulu karena berpengaruh pada jumlah harta warisan masing-masing pewaris yang akan dibagi kepada ahli waris dari tiap-tiap pewaris[1].

Disini saya memaparkan pembagian warisan dengan mengasumsikan bahwa kedua pewaris meninggal pada waktu bersamaan dan tidak diketahui siapa yang telebih dahulu meninggal. Harta warisan dari pewaris yang dijelaskan dalam kronologis di atas adalah sebidang tanah. Dikarenakan harta tersebut merupakan harta bersama dan tidak diketahui siapa yang terlebih dahulu meninggal dunia, maka dalam hukum waris islam harta tersebut harus dibagi dua terlebih dahulu yaitu ½ dari sebidang tanah merupakan harta warisan almarhum suami (ayah angkat) dan ½ lagi merupakan harta warisan dari almarhum istri (ibu angkat). Sebagaimana ketentuan pada Pasal 96 Ayat (1) KHI yaitu, “Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan hidup yang kebih lama” sebagaimana gambar dibawah ini:

50%

Setelah dibagi ½ maka harta tersebut dibagikan kepada ahli waris dari masing-masing pewaris. Maka berlaku ketentuan dalam Pasal 182 KHI yaitu:

“Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama dengan saurara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah dua berbanding satu dengan saudara perempuan.”

Berdasarkan ketentuan di atas, maka pewaris suami (ayah angkat) maka harta warisan jatuh ke saudara perempuan kandungnya yaitu sebagaimanak pada Pasal 182 KHI diatas, ia hanya berhak ½ dari ½ harta bersama. Lalu bagaimana sisanya? Maka sisanya tetap menjadi milik saudara perempuan kandung dari pewaris, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 193 KHI yang berbunyi: “Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris Dzawil Furrud menunjukan bahwa angka pembilang lebih kecil dari pada angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris asabah, maka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris, sedang sisanya dibagi secara berimbang di antara mereka.” Dikarenakan ahli waris dzawil furrud hanya satu yaitu saudara kandung perempuan dan tidak ada ahli waris asobah maka sisa harta menjadi milik ahli waris dzawil furrud.

Sedangkan untuk pewaris Istri (ibu angkat) maka harta warisan jatuh kepada saudara kandung dari pewaris yaitu 2 laki-laki dan 1 perempuan dengan pembagian dua banding satu (2:1) yaitu dua untuk saudara laki-laki dan satu untuk saudara perempuan sebagaimana Pasal 182 KHI yang telah disebutkan di atas.

Bagaimana dengan bagian anak angkat?

Anak angkat bukan merupakan ahli waris dari pewaris yang tidak memiliki hubungan darah, akan tetapi anak angkat dapat meminta bagiannya melalui “wasiat wajibah”. Permintaan bagian ini hanya 1/3 dari harta pewaris sebagaimana ketentuan dalam Pasal 209 Ayat 2 KHI, yaitu “Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat, diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) dari harta warisan orang tua angkatnya.” Lalu harta ini diambil dari mana?. Harta tersebut diambil dari harta pewaris terlebih dahulu sebelum dibagi kepada ahli waris dari pewaris. Akan tetapi demi keadilan bagian 1/3 ini tidak boleh melebihi dari bagian sebagaimana anak kandung. Dengan kata lain hak anak angkat paling banyak sebesar bagian anak perempuan atau bagian dari ahli waris ashobah anak perempuan.

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat

Terima Kasih

Oleh: Ranec


[1]  Sebagai contoh apabila suami (ayah angkat) yang meninggal terlebih dahulu, maka ½ bagian harta bersama tersebut dibagi ¼ kepada istrinya, sehingga jumlah harta si istri (ibu angkat) menjadi ½ dari harta bersama ditambah ¼ dari warisan sang suami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s